Antara Wahyu dan Teknologi: Modernisasi Spiritual di Puncak Jabal Al-Nur
Oleh: Wahidin Hasan
Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira, gunung itu sunyi, jauh dari hiruk-pikuk dunia. Waktu seolah berhenti di sana — hanya ada keheningan, renungan, dan pertemuan antara langit dan bumi. Kini, lebih dari 14 abad kemudian, suara langkah para peziarah di lereng Jabal Al-Nur akan disertai dengungan mesin: Arab Saudi tengah membangun kereta gantung menuju Gua Hira.
Bagi sebagian orang, proyek ini adalah kabar baik — terutama bagi lansia dan penyandang disabilitas yang selama ini sulit menapaki pendakian tiga jam yang terjal. Namun bagi sebagian lainnya, ini memunculkan tanya yang lebih dalam: apakah modernisasi bisa berjalan seiring dengan spiritualitas?
Spiritualitas dalam Era Teknologi
Dalam bukunya The Sacred and the Profane (1957), Mircea Eliade menulis bahwa manusia modern sering kehilangan “rasa sakral” karena teknologi yang mereduksi makna tempat dan ritus. Apa yang dulu dianggap suci kini bisa diakses dengan tiket dan fasilitas pendingin udara. Namun, Eliade juga menegaskan bahwa sakralitas bukan semata di tempat, melainkan dalam kesadaran manusia terhadap maknanya.
Arab Saudi tampaknya berusaha menjaga keseimbangan itu. Dalam proyek Hira Cultural District, kereta gantung hanya menjadi “akses alternatif”, sementara jalur pendakian tradisional tetap dibuka. Artinya, pengalaman spiritual tetap ditawarkan dalam dua bentuk: fisik dan reflektif — sesuai kemampuan dan pilihan masing-masing jamaah.
Ziarah dalam Bingkai Inklusivitas
Dari perspektif sosial, langkah ini mencerminkan perubahan paradigma besar: ibadah kini dilihat dalam kacamata aksesibilitas dan kesetaraan. Menurut pengamat kebudayaan Islam kontemporer, Prof. Hamid Dabashi dari Columbia University, “transformasi ruang-ruang suci dalam Islam modern menunjukkan bagaimana dunia Muslim bernegosiasi dengan globalisasi tanpa kehilangan spiritualitasnya.”
Pernyataan itu menemukan konteksnya di Makkah hari ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Saudi telah meluncurkan taksi udara tanpa awak, sistem smart hajj berbasis aplikasi, dan kini kereta gantung yang menembus puncak Jabal Al-Nur. Semuanya mengarah pada satu visi: menjadikan ibadah lebih efisien, ramah lingkungan, dan inklusif — sejalan dengan Saudi Vision 2030 yang menggabungkan spiritualitas dengan inovasi.
Teknologi sebagai Medium Iman
Marshall McLuhan dalam Understanding Media (1964) menulis, “the medium is the message.” Dalam konteks ini, teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan pesan itu sendiri — bahwa Islam dan modernitas tak harus saling meniadakan. Dengan kereta gantung ke Gua Hira, pesan yang disampaikan adalah bahwa iman bisa menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan esensinya.
Proyek ini juga membuka ruang tafsir baru bagi dunia Islam. Bahwa mendekat kepada Tuhan tidak harus berarti menolak kemajuan. Nabi sendiri menerima wahyu yang mendorong ilmu pengetahuan — iqra’, bacalah — bukan untuk menjauh dari dunia, melainkan untuk memahami dan mengelolanya.
Cakrawala Baru Keagamaan dan Pariwisata
Namun, modernisasi ruang suci selalu menyisakan paradoks. Profesor Ziauddin Sardar dalam bukunya Mecca: The Sacred City (2014) mengingatkan bahwa komersialisasi dan industrialisasi spiritual bisa membuat pengalaman ibadah kehilangan kedalaman emosionalnya. “Ketika semua menjadi efisien, kita berisiko kehilangan rasa lelah yang justru melahirkan makna,” tulisnya.
Itu sebabnya penting memastikan bahwa kereta gantung bukan sekadar alat transportasi, melainkan jembatan spiritual. Pemerintah Saudi telah menegaskan hal itu — jalur tradisional tetap dipertahankan, dan desain proyek disesuaikan agar menyatu dengan lanskap bebatuan, bukan menodainya.
Refleksi: Ketika Tradisi Bertemu Masa Depan
Dunia kini berada di persimpangan antara kecepatan dan kedalaman. Antara perjalanan yang instan dan perjalanan yang penuh makna. Proyek kereta gantung Gua Hira adalah simbol dari pertemuan dua dunia itu: modernitas yang tunduk pada nilai sakral.
Ketika gondola-gondola melayang di atas Jabal Al-Nur nanti, mungkin sebagian jamaah akan bertanya dalam hati: apakah keheningan di gua masih sama? Jawabannya tergantung pada hati yang datang — bukan pada alat yang mengantarnya.
Karena pada akhirnya, sebagaimana ditulis Karen Armstrong dalam Muhammad: A Prophet for Our Time, “yang paling sakral dari semua perjalanan adalah perjalanan ke dalam diri.”

